BEKAL MENGHADAPI UJIAN DAKWAH

Ikhwati fillah, situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.

Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ٌ يِ بُ م ٌ ير ِذَ ن ُهْ نِ م ْمُكَ ل ِ ِ نِّ إ ۖ ِه اللَّ َ لَِ وا إ ُّ رِ فَ ف

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.” (QS. Az-Dzariyat [51]: 50)

Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ا َُ ال َ فْ قَ أ ٍ وب ُ لُ ق ٰىَ لَ ع ْمَ أ َآن ْ رُ قْ ال َ ون ُ هر بَ دَ تَ ي َ لََ فَ أ

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)

Dari tadabur ayat-ayat AllaTa’ala ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:

1. Menjadi Orang yang Saling Teguh Pendirian/Paling Kokoh Sikapnya أثبت موقفا At-Tsabat (keteguhan) adalah buah dari kesabaran yang juga harus kita miliki (ثمرة الصدر). Karenanya, sifat sabar merupakan sikap yang sudah menyatu (internal) dalam kehidupan dakwah kita. Ingatlah saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita akan sikap sifat-sifat orang-orang yang beriman:

اَ مَ وا و ُ فُعَ ا ض َ مَ و ِه اللَّ ِ يلِ بَ س ِ فِ ْمُ هَ اب َصَ ا أ َ مِ وا ل ُ نَ هَ ا و َ مَ ف ٌيرِ ثَ كَ ون ُّ يِ ِبِ ر ُهَ عَ م َلَ اتَ ق ٍ ِِ بَ ن ْنِ م ْنِ ِيَ أَك َ و
َ ينِ رِ الصهاب ُّبُِ يُُه اللََّ و ۗ واُان َكَ تْ اس

“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 146)

Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita. Hanya saja, kita perlu memahami bila keteguhan sikap kadangkadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang sikap kedua.

2. Paling Berlapang Dada ارحب صدرا Sikap ini bermakna aktif, bukan pasif. Artinya, paling berlapang dada bukan paling banyak mengelus dada. Saat berhadapan dengan pihak yang mencela atau melakukan fitnah sekalipun, kita tidak emosional. Silakan mereka bicara apa pun tetapi silakan buktikan semua yang dibicarakan. Di sinilah kelapangan dada mendorong kita bersikap fleksibel. Karena, jika tidak ada lapang dada akan timbul kekakuan dalam berinteraksi dengan siapa pun.

3. Pemikiran yang Mendalam اعمق فكرا Sikap yang menjadi bekal berikutnya adaah pemikiran yang mendalam. Ini memberi makna dalam setiap peristiwa, kita perlu mendalami apa yang terjadi. Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tersebut. Dengan demikian, ketika kita merespon pun akan objektif. Tak hanya respon-respon kita yang objektif, namun juga terukur, dan mutawazin (seimbang). Meski demikian, pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat.

4. Pandangan yang Luas أوسع نظرا Temuan sektoral perlu dicari, namun kita perlu memiliki pandangan luas yang mendorong kita untuk bisa memahami persoalan dengan lebih lengkap. Dengan demikian, penyikapan kita pun terhadap persoalan tersebut dapat lebih tepat. Pandangan yang luas menjadi pelengkap akan pemikiran yang mendalam. Pandangan yang luas bisa menjaga kita dari kesalahan-kesalahan yang tak perlu akibat sikap ketergesa-gesaan manakala kita menyikapi sebuah persoalan.

5. Paling Giat dalam Bekerja انشط عملا Meski demikian, sambil merespon sesuai dengan kebutuhan, kita harus tetap giat bekerja (ansyathu amalan). Dari sini, kita perlu mengelola persoalan secara lebih baik. Orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jamai. Energi kita harus prioritas untuk membangun bangsa dan negeri ini. Bekerja untuk Indonesia di segala sektor, struktur sampai tingkat desa, dan kader-kader yang mendapat amanah di pemerintahan. Fokuskan semua bekerja.

6. Paling kokoh strukturnya اصلب تنظيما Harus terus kita pahami bahwa kita adalah jamaah manusia, selalu ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah daki-daki kita?” Kita selalu ingat Allah berfirman: ا
وق ُ هَ ز َ ان َ كَلِاطَ بْ ه ال نِ إ ۚ ُلِاطَ بْ ال َ قَ هَ زَ و ُّقَْ الْ َاء َ ج ْلُقَ و

“Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’ [17]: 81)

Oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah mendzohirkan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai. Inilah esensi dari hidup berjamaah. Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.

7. Paling Banyak manfaatnya اكثر نفعا Terakhir, kita harus menanamkan dalam jiwa dan pikiran kita bahwa: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ِ لناس ِ ل ْ مُ هُ عَ فْ نَ أ ِ الناس ُ رْ يَ خ “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, adDaruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Oleh karena itu, tantangan kita bersama adalah membuktikan bahwa jamaah ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah Ta’ala dan pertolongan kaum Mukminin.

Ikhwati fillah, jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan rekayasa, insya Allah dakwah ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh seluruh bangsa.

Sumber: TAUJIH KH HILMI AMINUDDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *